Thursday, October 11, 2012

Lyric Nothing's Gonna Change My Love For You [Free Download]

If I had to live my life without you near me
The days would all be empty
The nights would seem so long
With you I see forever oh clearly
I might have been in love before
But it never felt this strong

Our dreams are young
And we both know they'll take us
Where we want to go

(Chorus 1)
Hold me now
Touch me now
I don't wanna live without you

(Chorus 2)
Nothing's gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love

(Chorus 3)

Nothing's gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
The world may change my whole life through
But nothing's gonna change my love for you

If the road a head is not so easy
Our love will lead the way for  us 
Like a guiding star 
I'll be there for you if You should need me
You don't have to change a thing
I love you just the way you are
So come with me and share the view
I'll help you see forever too..
Download versi Glenn Mederios
Download versi Westlife
Download versi George Benson


Wednesday, October 10, 2012

Calculus 9th Edition (Purcell) [Free Download]






Need a reference for basic mathematic at university? Here is it! 
The most popular book in university and cover all material that's needed by scientist especially in the first year at university. Brief, concise and clear content will help you to focus on understanding the important concept.

Download here

Tuesday, October 9, 2012

Phylosophy Of Education (Task 2)



Nama  : Nurul Inayah Khairaty
NIM     : 121 444 1034
Kelas    : Biology ICP B

Salah satu hasil pendidikan yang dapat kita lihat dan nikmati saat ini adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Tak dapat disangsikan eksistensi dan kemajuan teknologi sangat membantu dalam kelangsungan hidup manusia, termasuk sebagai sarana untuk menghasilkan manusia yang terdidik. Dengan eksistensi teknologi tersebut manusia kini dituntut untuk cerdas,terampil, kreatif dan kompetitif. Namun, apakah dengan eksistensi dan kemajuan teknologi tersebut dapat dijadikan acuan keberhasilan dari suatu proses pendidikan?
Di berbagai media seringkali kita menyaksikan pejabat-pejabat tinggi negara yang terlibat dalam kasus KKN (kolusi, korupsi dan nepotisme). Setelah tindak lebih lanjut ternyata pelakunya adalah mereka yang telah mengunyah, mengenyam dan menelan mentah-mentah pendidikan. Pernahkah Anda mendengar seorang lulusan SMP atau SMA melakukan korupsi? Jawabannya adalah hampir tidak ada. Justru mereka adalah orang-orang yang merupakan output  pendidikan yang memiliki pengetahuan melangit yang “katanya” juga lulusan terbaik dari perguruan tinggi terbaik pula. Tak jarang sebagian dari mereka sudah bergelar Prof atau Dr. Tapi bukankah mereka juga adalah hasil atau product pendidikan? Ironisnya, hal ini juga sering terjadi di lingkungan pendidikan (akademisi atau insan pendidik) yang notabene adalah tempat di mana transfer of  knowledge dan transfer of value berlangsung (meski terkadang value itu terlupakan).
Apa yang terjadi di Indonesia saat ini merupakan gambaran hasil pendidikan bangsa kita selama ini. Majunya teknologi dan banyaknya sarjana sebagai output pendidikan adalah bukti nyata  dari proses pendidikan. Namun di sisi lain, banyaknya kaum intelek (sarjana) yang menganggur akibat “tidak layak pakai” seakan membuat kita “melek” bahwa pendidikan sebenarnya belum bisa menjamin masa depan kita.
Secara tidak langsung, hal-hal tersebut menyadarkan kita bahwa pendidikan selama ini hanya mengejar kuantitas tanpa kualitas. Saat kemajuan ilmu dan teknologi berkembang pesat secara kuantitatif, pendidikan justru terdegradasi secara kualitatif. Realitas ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang terabaikan sehingga mengurangi kebenaran pendidikan.

Bagaimana mengukur kebenaran pendidikan?
Pendidikan tak dapat diukur hanya dengan kacamata ijazah. Karena hal ini akan mereduksi kualitas pendidikan. Anak didik dituntut agar bisa mendapat nilai yang bagus dengan cara apapun, seperti  dalam pelaksanaan ujian nasional (meskipun dengan cara yang tidak jujur), padahal ijazah hanyalah formalitas bahwa seseorang telah melewati jenjang pendidikan. Adanya “kongkalikong” dalam pelaksanaan ujian tersebut secara tidak langsung sebenarnya telah mendidik anak didik untuk berperilaku tidak jujur.  Lagi-lagi pendidikan mengabaikan sesuatu.
Untuk mengukur, yang paling pertama ditentukan adalah acuan. Pendidikan yang benar adalah pendidikan yang mengarahkan ke arah positif. Kebenaran pendidikan adalah hasil dari proses pendidikan yang dilaksanakan dengan cara dan metode yang tepat sehingga menghasilkan manusia dan masyarakat yang terdidik.
Latar belakang pendidikan yang tinggi tidak bisa menjadi refleksi manusia dan masyarakat terdidik. Seperti kasus yang telah disebutkan di atas, mereka adalah manusia terpelajar (memiliki latar pendidikan yang tinggi) namun belum bisa dikategorikan sebagai manusia terdidik. Lalu bagaimana sebenarnya manusia terdidik itu? Dan bagaimana peranannya dalam masyarakat?
Orang terdidik adaah orang yang berpendidikan tidak hanya pendidikan formal saja tetapi juga pendidikan nonformal. Sebetulnya orang dikatakan terdidik itu jika dia bisa menempatkan diri dengan baik. Contohnya didalam bermasyarakat, orang terdidik pasti memiliki tempat atau posisi yang lebih tinggi dan lebih dihormati. Berbeda dengan jika kita bersikap kurang baik di dalam masyarakat, tentunya kita akan mendapatkan cap sebagai orang yang tak berpendidikan walaupun mungkin kita pernah “makan bangku sekolah” juga. Orang berpendidikan juga pasti memiliki sopan santun yang baik, bisa bertutur kata dengan baik, dan juga bisa membawa diri. Mengapa bisa demikian, karena pendidikan tidak hanya memberi pengetahuan saja tetapi juga membentuk kepribadian seseorang (Anonim, 2011).
 Jadi, manusia terdidik adalah manusia yang telah dididik melalui proses pendidikan secara sistematik yang membentuk kepribadian dan kedewasaan pada dirinya. Dengan kata lain, output pendidikan adalah manusia yang cerdas baik secara intelektual, spiritual dan emosional. Ibarat rumah tangga, ketiga hal ini adalah pondasi utama yang harus dimiliki oleh setiap insan pendidikan untuk membangun rumah yang bermoral dan beradab. Ketika salah satu pondasi hilang, maka hancurlah seluruhnya.
Kasus KKN yang yang sering terjadi di tanah air adalah cerminan manusia yang hanya berorientasi pada intelektual semata. Mereka kehilangan dua pondasi utama, yaitu spiritual dan emosional. Dua hal inilah yang sering diabaikan dalam dunia pendidikan saat ini. Padahal, kedua hal tersebut sama pentingnya dengan kecerdasan intelektual dalam membentuk manusia yang terdidik. Mereka kehilangan kesadaran, kemandirian dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar sehingga menjadikannya insan pendidikan yang “bengis” namun cerdas secara intelektual. Kecerdasan intelektual inilah yang digunakannya untuk   bisa menduduki jabatan yang tinggi lalu dengan kebengisanya itulah ia “menempatkan sesuatu yang tidak pada tempatnya”.
Pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan ini, olenya itu sudah sepantasnya ada reformasi paradigma pendidikan. Yang tadinya hanya berorientasi pada satu pondasi yaitu kecerdasan intelektual yang diformulasikan dalam bentuk ijazah, menjadi lebih memperhatikan dua pondasi lainnya itu kecerdasan spiritual dan emosional yang dapat diperoleh dari “proses” pendidikan itu sendiri serta aplikasinya di masyarakat sehingga terwujudlah manusia terdidik, bermoral dan beradab.

DAFTAR PUSTAKA

Friday, October 5, 2012

Biology Campbell Edisi 8 [Free Download]



Tidak perlu basa-basi lagi, inilah buku teks terbaik di bidangnya saat ini. Ditulis oleh figur-figur terkemuka di bidang Biologi, digunakan di universitas-universitas terkemuka di dunia, buku ini menjadi sumber inspirasi bagi calon-calon ilmuwan life science di masa depan. Buku modern yang padat dengan ilustrasi ini adalah buku yang wajib dimiliki oleh mahasiswa life science, baik di tingkat S-1 maupun S-2.

Dari segi kedalaman materi, buku ini cukup teliti dan mendetail. Setiap topik dibahas dengan intensitas yang sama. Tidak perlu diragukan lagi, inilah buku yang tepat untuk mengantarkan Anda memasuki era bioteknologi yang dewasa ini mengalami perkembangan pesat!

Silakan download disini ^^

Semoga bermanfaat buat teman-teman sekalian :)

Monday, October 1, 2012

Senja...


Terduduk, termangu sendiri disore hari menatap langit lewat celah jendela, gelap serasa  berpeluk erat bersama langit hingga menutupi biru sang langit. Itu yang selalu kulakukan saat sore. Tapi sore ini berbeda, sore itu lembayung senja menyapa beriring senyum ronanya, sungguh indah. Bahkan sangat indah. Hanya terpana, tanpa kedipan sedikitpun. Menatap langit menengadah dagu. Yaa.. Itulah kebiasaanku.
                Tiba-tiba aku tersontak bingung ketika melihat siluetnya tergambar pada mega-mega. Siluet itu seenaknya saja datang di hadap pandanganku, aku sungguh bingung akan hal ini.
Aku terus meraba hati, menerka perasaan, menggali fikiranku. Rindukah ini? Atau hanya angan kosong? Atau bahkan denyut kebencian yang kembali berdetak kuat?
                Memoar lalu yang tak pernah ku sangka kembali menyapa. Rindukah? Ku ulangi lagi pertanyaan itu pada hatiku, atau hanya luka kebencian yang kembali terulai? Segala pertanyaan menerjangku. Haah… entahlah akupun mulai tersenyum sinis berfikir itu hanya memoar lalu yang telah menggores luka.
                Lambat fikiranku kembali ke peristiwa beberapa tahun lau, klise-klise gambar yang telah usang kini berputar di otakku, membentuk slide yang tidak beraturan. Ku coba menyusun kembali urutan-urutan peristiwa itu, lalu fikiranku mulai menerawang jauh ke masa lalu.
“Din, seratus meter lagi”, seru Ahmad dengan nafas tersengal.
Aku sudah mulai lelah, jalan setapak telah aku lalui. Ahmad di sampingku terlihat kelelahan, namun saat aku memandangnya, ia selalu tersenyum seolah ia tak merasakan kelelahan sedikitpun. Hari ini, mungkin hanya kami berdua yang nekad mendaki gunung . Aku dan Ahmad bersahabat sejak kecil. Mendaki adalah kebiasaan kami sejak SMP. Kami rutin mendaki gunung ini setiap libur semester  walau hanya untuk  memandang indahnya kota Malino dengan siluet jingga.
                Lima menit lagi, birunya langit akan berganti dengan indahnya siluet jingga. Beberapa langkah lagi untuk menggapai puncak, tapi tiba-tiba kakiku tersandung pada akar pohon nan besar. Aku tersungkur lalu terjerembab di atas tanah, lalu dengan sigap Ahmad  menggapai tanganku lalu membantuku untuk bangkit.
“Kamu gak apa-apa, Din?”, tanyanya dengan nada khawatir.
“Hehehe, iya. Gak apa-apa kok”, kataku sambil menatap mata Ahmad.
                Tak dapat ku sangsikan, entah mengapa aku selalu tenang saat menatap mata itu. Tatapannya memupus sukma yang haus. Yang membuat aku terdampar dalam imaji yang tak kunjung usai tentangnya. Menepi dalam cekung matanya, memahat nama dalam palung sanubari. Goyah ku ayun lengan berhimpit ribuan jiwa pemujanya. sayang, suka, cinta. Ini sesakkan rasa.
Huuhhhhhhhhh.. Eluhan panjang itu mengakhiri pendakian kami menuju puncak. Aku terduduk di samping Ahmad, memandangi indahnya semburat jingga sang langit. Sungguh indah.
 “Din, aku mau ngomong sesuatu sama kamu”, katanya dengan tatapan tak biasa.
“Mungkin ini terdengar aneh atau lucu tapi sungguh ini benar-benar nyata”.
Ia tetap menatapku lamat-lamat, aku balas tatapannya dengan tatapan tak biasa pula..
“Maksud kamu?”, tanyaku.
“Din, sungguh aku sangat mencintaimu. Maafkan aku bila aku menodai persahabatan kita dengan perasaan ini. Maafkan aku, Din”
“Tak akan ku maafkan!”, kataku dengan nada yang ku tekan.
“……………”
Ahmad diam dan tertunduk dalam duduknya.
“Tak akan ku maafkan, karena kamu gak punya salah sama aku, Mad”,  Aku mulai bicara.
“Maksud kamu?”, tanyanya dengan pandangan yang meminta penjelasan.
“Ya, aku juga mencintaimu Ahmad”, jelasku.
                Ahmad kemudian mengeluarkan Edelweis yang sejak tadi disembunyikannya didalam jaket tebalnya, lalu meletakkannya di atas telingaku..
                Sungguh indah hari itu, aku merasa wanita paling bahagia di dunia ini. Aku sungguh mencintainya, benih cinta ini terus tumbuh besar beriring aku selalu bersamanya.
Namun kebahagiaanku tak berlangsung lama,  aku tak tahu bagaimana awalnya hingga ia pergi tanpa ku ketahui. Ia pergi tanpa pesan, tanpa kata, bahkan tak ku sangka.
Kepergiannya telah memporak-porandakan hatiku.
Ku berjalan melangkah melewati getirnya arus hidup ini. Desahan nafas yang tertahan, kegelisahan yang tak kunjung usai dan rindu yang selalu menggebu.
Namun ku bertekad untuk terus bertahan, walau hanya kehampaan yang selalu menemaniku. Aku tak  mengert, mengapa semua ini terjadi. Hidupku gelap tanpa sedikit cahayamu menerangi.
Dan aku diam tak memahami.
                Sore ini, aku kembali menatap senja dan tanpa sengaja aku kembali mengorek luka lama yang telah lama kering. Sore ini hujan turun lagi bersama kenanganku denganmu. Hanya diary usang ini yang selalu menemaniku dalam kesepianku. Ia tak bosan mendengar curahan hatiku tentangmu, tentang rinduku, tentang cintaku yang tak kunjung usai dan tentang cintamu yang tak kunjung kembali                                                                
                                                                                                                                                                21 Maret 2012
Dear diary
Hujan mengguyur kepercayaanku hingga luntur membentuk bingkai hitam di tepi mataku. Mempercayakan hati padamu adalah kesalahan, menitipkan rindu padamu juga kesalahan. Jadi sejak awal aku tengah bergemul dengan kesalahan hingga akhirnya kesalahan mempermainkan aku.
Memunguti serpihan hati, membentuknya lagi menjadi sekeping ati dengan pita merah muda.
Aku terluka tertikam tajamnya serpihan hati, darah membasahi sadar yang lelah mengucur bersama benci juga dengki.
Tatap aku kini!!
Aku di sini sendiri membawa hati yang berlumur kecewa. Berharap kau dating memanggilku, memasuki gubukku di tengah hujan yang menghijam kulit tipis.
Mengelus hati yang berlumur duka, menerjang hujan malam ini.
Berlari membawa perih. Ah!! Tak ada lagi dirimu, aku rindu, masih rindu.
Aku rindu kau mengeja namaku, masih rindu.
Duniaku tak terang lagi, langkahku semakin sempit dengan duri
Sayapku tak terkepak di langit tinggi, ragaku mulai tak sehat semakin hari.
Ke kanan sepi,
Ke kiri tiada arti,
Ke depan terhalangi,
Mundur ke belakang sama saja bunuh diri.
Datanglah malaikat hati, obati aku biar bisa berdiri.
Bukan saja untuk hari ini, tapi rawatlah aku sampai waktu berhenti.

                --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

(Tugas akhir bahasa Indonesia kelas XII)

Tuesday, September 18, 2012

To the one who walking in the rain with me "Thank’ you"


Assalamu Alaikum Wr.Wb


Okey readers, author cerita dibawah ini adalah hasil karya seorang sahabat yang merupakan salah satu pengalaman hidupnya. Tidak usah berlama-lama, langsung saja. Check it out!!!


Sesuatu hal yang entah mengapa membuatku terus berpijar pada detik itu. Kuingin Katakan semuanya. Semua yang ku tulis, ku isyaratkan bahkan sesuatu yang selama ini ku pendam.
Selama Aku bisa mengatakannya ku ingin katakan semua
Tapi ku tak ingin perubahan
Karna ku suka keadaan ini
Kusuka tetesan-tetesan hujan yang jatuh
Percikan genang air yang murni
Dan hadirmu di samping ku.
Ketakutanku Adalah perubahan mu
Kesedihanku adalah kepergianmu
Tapi Kupastikan keraguanku,kegundahanku yang tak beralasan.
Karna kau pasti kan disini untukku.


           Pertigaan Tallo Mandai Terhenti tiga Angkot Menunggu Langkah Kaki Penumpang Menghampiri. Samar-samar terlihat seseorang bercelana abu-abu melangkah pasti keluar dari  salah satu angkot. Sekarang terlihat jelas laki-laki itu memakai kemeja ungu kotak-kotak dan celana abu-abu khas salah satu seragam SMA yg tergolong elit di Makassar…dia berlari menerobos gerimis yang jatuh tanpa henti. Menghampiri salah satu angkot yang mengarah   kearah berlainan dari angkot yang baru ia naiki tadi.
“MANDAI???” ia tampak bertanya pada gadis yg tepat duduk di depan pintu angkot
“hmm..?” gadis itu tampak bingung apa laki-laki itu benar bertanya padanya
“MANDAI??” Laki-laki itu lanjut bertanya pada sopir yg seharusnya memang jadi tempat bertanyanya..
Dengan cepat Laki-laki itu membuka pintu depan dan masuk ke angkot agar tak benar-benar basah karna gerimis itu.

Sepanjang Jalan Tak Ada yang terjadi, laki-laki tadi hanya sesekali membolak-balik halaman buku “GUYONAN KORUPTOR” yang Ia baca. Sedang gadis tadi hanya Melihat-lihat Tetesan gerimis di jendela angkot. Perjalanan mereka memang cukup panjang ditambah dengan kemacetan akibat ada perbaikan jalan.
Satu persatu penumpang turun di pinggiran jalan, menyisahkan hanya laki-laki itu dan gadis itu.
Tak lama kemudian laki-laki itu menoleh kebelakang mungkin hanya hendak memastikan jumlah penumpang yang masih tersisa.

Dan satu hal yang ia tahu bahwa gadis yang tadi tidak menjawab pertanyaanya teryata masih ada diangkot itu dan teryata ia juga memakai rok abu-abu,.
Kemacetan Semakin Parah dan gerimis pun semakin bergemuruh deras…dengan keheningan angkot sesekali gadis itu melihat kepala laki-laki itu yg terkadang bergerak kekiri dan kekanan seperti tak terkontrol.
“Pasti dia ketiduran,,cepe’ dech!!”gerutu sang gadis dalam hati
Tak Lama Kemudian terdengar suara Pelan dibalik hujan deras..” kiri!” Tanda Angkot Itu harus menurunkan penumpang
JEEEJJTTTTT….Sopir mengerem angkotnya, Sontak laki-laki tadi langsung terbangun.
“ini pak uangnya” kata gadis itu
“hah! PURI JELITA”,,ini pak!” lanjut laki-laki tadi yang ternyata turun di tempat yang sama
Gadis itu berlari dengan cepat menembus hujan yang deras, sambil berharap ayahnya cepat menjemputnya.

Sesekali kedua anak itu saling mendahului…
Gadis itu terus berlari..tapi laki-laki itu pun juga terus berlari. Terkadang gadis itu mendahuluinya tapi terkadang laki-laki itu menyusul kembali dari belakang. Mereka seakan seperti pembalap yang saling mendahului.
Tapi kemudian laki-laki itu merasa tak tersusul lagi oleh gadis itu
“MANA DIA???” gumamnya heran ketika tidak melihat gadis itu menyusulnya
Laki-laki itu pun menoleh,,, Dengan Senyum lebar gadis itu tersenyum seakan ingin memberi tahu bahwa ia sangat lelah dan telah benar-benar basah sekarang…Tanpa di duga laki-laki tadi juga tersenyum layaknya teman lama yang sedang bermain hujan-hujanan bersama teman baiknya.
Laki-laki itu pun membuka jemper putihnya yang ia pakai tanpa ia kancing tadi, sembari menghampiri gadis yg tertinggal dibelakangnya.
“hhhaaa, basah ya!” Teriaknya
“hhmmm” gadis itu hanya bergumam
“ini pakai,,,jadiin payung aja…!”sarannya dari jauh
“ngak usah” jawab gadis tadi singkat dan jelas (ekspresi menolak)
Laki-Laki Tadi Langsung melemparkan jaketnya dan berlari Sekuat Mungkin. Tanpa Ada Pilihan gadis itu harus memakai jaketnya karna tidak sopan kalau hanya meninggalkannya di jalanan.
“Hei..Hei!!”teriak gadis itu tapi tak dihiraukan oleh laki-laki itu
Sedangkan Laki-laki Tadi terus berlari dan berfikir






*To be continued

Sekilas Tentang Penulis (By Me)

Suci Ramdani Fitri, lahir pada tanggal 3 februari 1995 silam. Akrab dipanggil Suci. Anak bungsu dari dua bersaudara. Lahir dan besar di kalimantan, lalu berhijrah ke makassar pada pertengahan 2009 lalu. Doi melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 4 Makassar dan sekarang sedang menjalani kuliah di Universitas Negeri Makassar. Ketika SMP, doi pernah duduk di kelas akselerasi di SMPN 1 Sengata (Kalimantan Timur). Tak heran bila umurnya tergolong lebih muda dibanding teman-teman sekelasnya di ICP Of Biology Education. Meski demikian, tak bisa dinafikan bahwa doi juga merupakan salah satu mahasiswa yang unggul di berbagai bidang, bukan hanya akademik tapi juga dalam hal jurnalistik. Untuk itu, doi dan owner blog berencana untuk bergabung di salah satu biro HIMABIO UNM yang bergerak dalam bidang jurnalistik, yaitu LPM BIOma FMIPA UNM. Keep pray ya my beloved readers ;) Semoga ane dan sohib ane diterima. Hahahaa.


Sekian.
Wassalam

Friday, September 7, 2012

Renungkan!





Kita semua suka menatap bulan dan bintang, bukan? Menyadari, hei, apa yang akan kita lihat di langit malam kalau tidak ada dua benda ini?

Kita semua juga suka menatap hujan, bukan? Menghela nafas, bertanya dalam hati, berapakah jumlah tetes air yang turun? Kalau jumlah tetes hujan yang sepele ini saja kita tidak tahu, kenapa manusia selalu saja merasa congkak.
Kita juga suka menatap lautan, bukan? Menangguk takjim, teringatt petuah lama, lihatlah lautan terbentang luas, lemparkan sekantong tinta hitam, maka dengan lapangnya lautan, tinta hitam itu tidak berasa. Berbeda sekali dengan hati kita, yang setetes kesedihan saja, sudah membuat gelap seluruh hati.

Kita semua suka menatap sungai, bukan? Menggaruk kepala, berpikir, jika kita meletakkan sebuah perahu plastik yang kokoh, berapa ribu kilometer dia akan berpetualang mengelilingi dunia? Melihat banyak hal, bertemu banyak hal? Lantas, apakah kita tidak bergerak juga untuk pergi melihat dunia?

Kita juga suka menatap pegunungan, kabut menyelimuti hutan? Sambil merapatkan jaket, berpikirlah, lihatlah, pasak-pasak bumi sedang bekerja. Tanpa pegunungan, kulit bumi hanya lempeng yg terus berputar tidak terkendali.

Kita semua suka melihat hal tersebut, bukan? Maka terimakasih Tuhan atas segala hal menakjubkan yang telah Engkau ciptakan. Termasuk menatap pagi ini. Cahaya matahari pertama membasuh bumi, gemerlap dipantulkan kaca kendaraan, gedung, atau embun di rerumputan. Wajah-wajah semangat melintas, memulai aktivitas. Terimakasih, Tuhan.

-Tere Liye-