If I had to live my life without you near me
The days would all be empty
The nights would seem so long
With you I see forever oh clearly
I might have been in love before
But it never felt this strong
Our dreams are young
And we both know they'll take us
Where we want to go
(Chorus 1)
Hold me now
Touch me now
I don't wanna live without you
(Chorus 2)
Nothing's gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love
(Chorus 3)
Nothing's gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
The world may change my whole life through
But nothing's gonna change my love for you
If the road a head is not so easy
Our love will lead the way for us
Like a guiding star
I'll be there for you if You should need me
You don't have to change a thing
I love you just the way you are
So come with me and share the view
I'll help you see forever too..
Download versi Glenn Mederios
Download versi Westlife
Download versi George Benson
Thursday, October 11, 2012
Wednesday, October 10, 2012
Calculus 9th Edition (Purcell) [Free Download]
Need a reference for basic mathematic at university? Here is it!
The most popular book in university and cover all material that's needed by scientist especially in the first year at university. Brief, concise and clear content will help you to focus on understanding the important concept.
Tuesday, October 9, 2012
Phylosophy Of Education (Task 2)
Nama : Nurul Inayah Khairaty
NIM : 121 444 1034
Kelas : Biology ICP B
Salah satu hasil
pendidikan yang dapat kita lihat dan nikmati saat ini adalah perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Tak dapat disangsikan eksistensi dan
kemajuan teknologi sangat membantu dalam kelangsungan hidup manusia, termasuk
sebagai sarana untuk menghasilkan manusia yang terdidik. Dengan eksistensi
teknologi tersebut manusia kini dituntut untuk cerdas,terampil, kreatif dan
kompetitif. Namun, apakah dengan eksistensi dan kemajuan teknologi tersebut
dapat dijadikan acuan keberhasilan dari suatu proses pendidikan?
Di berbagai media
seringkali kita menyaksikan pejabat-pejabat tinggi negara yang terlibat dalam
kasus KKN (kolusi, korupsi dan nepotisme). Setelah tindak lebih lanjut ternyata
pelakunya adalah mereka yang telah mengunyah, mengenyam dan menelan
mentah-mentah pendidikan. Pernahkah Anda mendengar seorang lulusan SMP atau SMA
melakukan korupsi? Jawabannya adalah hampir tidak ada. Justru mereka adalah
orang-orang yang merupakan output pendidikan yang memiliki pengetahuan melangit
yang “katanya” juga lulusan terbaik dari perguruan tinggi terbaik pula. Tak
jarang sebagian dari mereka sudah bergelar Prof atau Dr. Tapi bukankah mereka
juga adalah hasil atau product pendidikan? Ironisnya, hal ini juga sering
terjadi di lingkungan pendidikan (akademisi atau insan pendidik) yang notabene
adalah tempat di mana transfer of knowledge dan transfer of value
berlangsung (meski terkadang value itu terlupakan).
Apa yang terjadi di
Indonesia saat ini merupakan gambaran hasil pendidikan bangsa kita selama ini.
Majunya teknologi dan banyaknya sarjana sebagai output pendidikan adalah
bukti nyata dari proses pendidikan.
Namun di sisi lain, banyaknya kaum intelek (sarjana) yang menganggur akibat “tidak
layak pakai” seakan membuat kita “melek” bahwa pendidikan sebenarnya belum bisa
menjamin masa depan kita.
Secara tidak langsung,
hal-hal tersebut menyadarkan kita bahwa pendidikan selama ini hanya mengejar
kuantitas tanpa kualitas. Saat kemajuan ilmu dan teknologi berkembang pesat secara
kuantitatif, pendidikan justru terdegradasi secara kualitatif. Realitas ini
menunjukkan bahwa ada sesuatu yang terabaikan sehingga mengurangi
kebenaran pendidikan.
Bagaimana mengukur
kebenaran pendidikan?
Pendidikan tak dapat
diukur hanya dengan kacamata ijazah. Karena hal ini akan mereduksi kualitas
pendidikan. Anak didik dituntut agar bisa mendapat nilai yang bagus dengan cara
apapun, seperti dalam pelaksanaan ujian
nasional (meskipun dengan cara yang tidak jujur), padahal ijazah hanyalah
formalitas bahwa seseorang telah melewati jenjang pendidikan. Adanya “kongkalikong”
dalam pelaksanaan ujian tersebut secara tidak langsung sebenarnya telah mendidik
anak didik untuk berperilaku tidak jujur. Lagi-lagi pendidikan mengabaikan sesuatu.
Untuk mengukur, yang
paling pertama ditentukan adalah acuan. Pendidikan yang benar adalah pendidikan
yang mengarahkan ke arah positif. Kebenaran pendidikan adalah hasil dari
proses pendidikan yang dilaksanakan dengan cara dan metode yang tepat sehingga menghasilkan
manusia dan masyarakat yang terdidik.
Latar belakang pendidikan
yang tinggi tidak bisa menjadi refleksi manusia dan masyarakat terdidik. Seperti
kasus yang telah disebutkan di atas, mereka adalah manusia terpelajar (memiliki
latar pendidikan yang tinggi) namun belum bisa dikategorikan sebagai manusia
terdidik. Lalu bagaimana sebenarnya manusia terdidik itu? Dan bagaimana
peranannya dalam masyarakat?
Orang terdidik adaah
orang yang berpendidikan tidak hanya pendidikan formal saja tetapi juga
pendidikan nonformal. Sebetulnya orang dikatakan terdidik itu jika dia bisa
menempatkan diri dengan baik. Contohnya didalam bermasyarakat, orang terdidik
pasti memiliki tempat atau posisi yang lebih tinggi dan lebih dihormati. Berbeda
dengan jika kita bersikap kurang baik di dalam masyarakat, tentunya kita akan
mendapatkan cap sebagai orang yang tak berpendidikan walaupun mungkin kita
pernah “makan bangku sekolah” juga. Orang berpendidikan juga pasti memiliki
sopan santun yang baik, bisa bertutur kata dengan baik, dan juga bisa membawa
diri. Mengapa bisa demikian, karena pendidikan tidak hanya memberi pengetahuan
saja tetapi juga membentuk kepribadian seseorang (Anonim, 2011).
Jadi, manusia terdidik adalah manusia yang
telah dididik melalui proses pendidikan secara sistematik yang membentuk kepribadian
dan kedewasaan pada dirinya. Dengan kata lain, output pendidikan adalah
manusia yang cerdas baik secara intelektual, spiritual dan emosional.
Ibarat rumah tangga, ketiga hal ini adalah pondasi utama yang harus dimiliki
oleh setiap insan pendidikan untuk membangun rumah yang bermoral dan beradab. Ketika
salah satu pondasi hilang, maka hancurlah seluruhnya.
Kasus KKN yang yang
sering terjadi di tanah air adalah cerminan manusia yang hanya berorientasi
pada intelektual semata. Mereka kehilangan dua pondasi utama, yaitu spiritual
dan emosional. Dua hal inilah yang sering diabaikan dalam dunia
pendidikan saat ini. Padahal, kedua hal tersebut sama pentingnya dengan
kecerdasan intelektual dalam membentuk manusia yang terdidik. Mereka kehilangan
kesadaran, kemandirian dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar sehingga
menjadikannya insan pendidikan yang “bengis” namun cerdas secara intelektual.
Kecerdasan intelektual inilah yang digunakannya untuk bisa
menduduki jabatan yang tinggi lalu dengan kebengisanya itulah ia “menempatkan
sesuatu yang tidak pada tempatnya”.
Pendidikan memiliki peran
penting dalam kehidupan ini, olenya itu sudah sepantasnya ada reformasi
paradigma pendidikan. Yang tadinya hanya berorientasi pada satu pondasi yaitu
kecerdasan intelektual yang diformulasikan dalam bentuk ijazah, menjadi lebih
memperhatikan dua pondasi lainnya itu kecerdasan spiritual dan emosional yang
dapat diperoleh dari “proses” pendidikan itu sendiri serta aplikasinya di
masyarakat sehingga terwujudlah manusia terdidik, bermoral dan beradab.
DAFTAR
PUSTAKA
Friday, October 5, 2012
Biology Campbell Edisi 8 [Free Download]
Tidak perlu basa-basi lagi, inilah buku teks terbaik di bidangnya saat ini. Ditulis oleh figur-figur terkemuka di bidang Biologi, digunakan di universitas-universitas terkemuka di dunia, buku ini menjadi sumber inspirasi bagi calon-calon ilmuwan life science di masa depan. Buku modern yang padat dengan ilustrasi ini adalah buku yang wajib dimiliki oleh mahasiswa life science, baik di tingkat S-1 maupun S-2.
Dari segi kedalaman materi, buku ini cukup teliti dan mendetail. Setiap topik dibahas dengan intensitas yang sama. Tidak perlu diragukan lagi, inilah buku yang tepat untuk mengantarkan Anda memasuki era bioteknologi yang dewasa ini mengalami perkembangan pesat!
Silakan download disini ^^
Semoga bermanfaat buat teman-teman sekalian :)
Dari segi kedalaman materi, buku ini cukup teliti dan mendetail. Setiap topik dibahas dengan intensitas yang sama. Tidak perlu diragukan lagi, inilah buku yang tepat untuk mengantarkan Anda memasuki era bioteknologi yang dewasa ini mengalami perkembangan pesat!
Silakan download disini ^^
Semoga bermanfaat buat teman-teman sekalian :)
Monday, October 1, 2012
Senja...
Terduduk, termangu sendiri disore hari menatap langit lewat
celah jendela, gelap serasa berpeluk
erat bersama langit hingga menutupi biru sang langit. Itu yang selalu kulakukan
saat sore. Tapi sore ini berbeda, sore itu lembayung senja menyapa beriring
senyum ronanya, sungguh indah. Bahkan sangat indah. Hanya terpana, tanpa
kedipan sedikitpun. Menatap langit menengadah dagu. Yaa.. Itulah kebiasaanku.
Tiba-tiba
aku tersontak bingung ketika melihat siluetnya tergambar pada mega-mega. Siluet
itu seenaknya saja datang di hadap pandanganku, aku sungguh bingung akan hal
ini.
Aku terus meraba hati, menerka
perasaan, menggali fikiranku. Rindukah ini? Atau hanya angan kosong? Atau
bahkan denyut kebencian yang kembali berdetak kuat?
Memoar
lalu yang tak pernah ku sangka kembali menyapa. Rindukah? Ku ulangi lagi
pertanyaan itu pada hatiku, atau hanya luka kebencian yang kembali terulai?
Segala pertanyaan menerjangku. Haah… entahlah akupun mulai tersenyum sinis berfikir
itu hanya memoar lalu yang telah menggores luka.
Lambat
fikiranku kembali ke peristiwa beberapa tahun lau, klise-klise gambar yang
telah usang kini berputar di otakku, membentuk slide yang tidak beraturan. Ku
coba menyusun kembali urutan-urutan peristiwa itu, lalu fikiranku mulai
menerawang jauh ke masa lalu.
“Din, seratus meter lagi”, seru Ahmad dengan nafas
tersengal.
Aku sudah mulai lelah, jalan
setapak telah aku lalui. Ahmad di sampingku terlihat kelelahan, namun saat aku
memandangnya, ia selalu tersenyum seolah ia tak merasakan kelelahan sedikitpun.
Hari ini, mungkin hanya kami berdua yang nekad mendaki gunung . Aku dan Ahmad
bersahabat sejak kecil. Mendaki adalah kebiasaan kami sejak SMP. Kami rutin
mendaki gunung ini setiap libur semester
walau hanya untuk memandang
indahnya kota Malino dengan siluet jingga.
Lima
menit lagi, birunya langit akan berganti dengan indahnya siluet jingga.
Beberapa langkah lagi untuk menggapai puncak, tapi tiba-tiba kakiku tersandung
pada akar pohon nan besar. Aku tersungkur lalu terjerembab di atas tanah, lalu
dengan sigap Ahmad menggapai tanganku
lalu membantuku untuk bangkit.
“Kamu gak apa-apa, Din?”, tanyanya dengan nada khawatir.
“Hehehe, iya. Gak apa-apa kok”, kataku sambil menatap mata
Ahmad.
Tak
dapat ku sangsikan, entah mengapa aku selalu tenang saat menatap mata itu.
Tatapannya memupus sukma yang haus. Yang membuat aku terdampar dalam imaji yang
tak kunjung usai tentangnya. Menepi dalam cekung matanya, memahat nama dalam
palung sanubari. Goyah ku ayun lengan berhimpit ribuan jiwa pemujanya. sayang,
suka, cinta. Ini sesakkan rasa.
Huuhhhhhhhhh.. Eluhan panjang itu
mengakhiri pendakian kami menuju puncak. Aku terduduk di samping Ahmad,
memandangi indahnya semburat jingga sang langit. Sungguh indah.
“Din, aku mau ngomong
sesuatu sama kamu”, katanya dengan tatapan tak biasa.
“Mungkin ini terdengar aneh atau lucu tapi sungguh ini
benar-benar nyata”.
Ia tetap menatapku lamat-lamat, aku balas tatapannya dengan
tatapan tak biasa pula..
“Maksud kamu?”, tanyaku.
“Din, sungguh aku sangat mencintaimu. Maafkan aku bila aku
menodai persahabatan kita dengan perasaan ini. Maafkan aku, Din”
“Tak akan ku maafkan!”, kataku dengan nada yang ku tekan.
“……………”
Ahmad diam dan tertunduk dalam duduknya.
“Tak akan ku maafkan, karena kamu gak punya salah sama aku,
Mad”, Aku mulai bicara.
“Maksud kamu?”, tanyanya dengan pandangan yang meminta
penjelasan.
“Ya, aku juga mencintaimu Ahmad”, jelasku.
Ahmad
kemudian mengeluarkan Edelweis yang sejak tadi disembunyikannya didalam jaket tebalnya,
lalu meletakkannya di atas telingaku..
Sungguh
indah hari itu, aku merasa wanita paling bahagia di dunia ini. Aku sungguh
mencintainya, benih cinta ini terus tumbuh besar beriring aku selalu
bersamanya.
Namun kebahagiaanku tak berlangsung lama, aku tak tahu bagaimana awalnya hingga ia pergi
tanpa ku ketahui. Ia pergi tanpa pesan, tanpa kata, bahkan tak ku sangka.
Kepergiannya telah memporak-porandakan hatiku.
Ku berjalan melangkah melewati
getirnya arus hidup ini. Desahan nafas yang tertahan, kegelisahan yang tak
kunjung usai dan rindu yang selalu menggebu.
Namun ku bertekad untuk terus
bertahan, walau hanya kehampaan yang selalu menemaniku. Aku tak mengert, mengapa semua ini terjadi. Hidupku
gelap tanpa sedikit cahayamu menerangi.
Dan aku diam tak memahami.
Sore
ini, aku kembali menatap senja dan tanpa sengaja aku kembali mengorek luka lama
yang telah lama kering. Sore ini hujan turun lagi bersama kenanganku denganmu.
Hanya diary usang ini yang selalu menemaniku dalam kesepianku. Ia tak bosan mendengar
curahan hatiku tentangmu, tentang rinduku, tentang cintaku yang tak kunjung
usai dan tentang cintamu yang tak kunjung kembali
21
Maret 2012
Dear diary
Hujan mengguyur
kepercayaanku hingga luntur membentuk bingkai hitam di tepi mataku.
Mempercayakan hati padamu adalah kesalahan, menitipkan rindu padamu juga
kesalahan. Jadi sejak awal aku tengah bergemul dengan kesalahan hingga akhirnya
kesalahan mempermainkan aku.
Memunguti serpihan
hati, membentuknya lagi menjadi sekeping ati dengan pita merah muda.
Aku terluka tertikam
tajamnya serpihan hati, darah membasahi sadar yang lelah mengucur bersama benci
juga dengki.
Tatap aku kini!!
Aku di sini sendiri
membawa hati yang berlumur kecewa. Berharap kau dating memanggilku, memasuki
gubukku di tengah hujan yang menghijam kulit tipis.
Mengelus hati yang
berlumur duka, menerjang hujan malam ini.
Berlari membawa perih.
Ah!! Tak ada lagi dirimu, aku rindu, masih rindu.
Aku rindu kau mengeja
namaku, masih rindu.
Duniaku tak terang
lagi, langkahku semakin sempit dengan duri
Sayapku tak terkepak
di langit tinggi, ragaku mulai tak sehat semakin hari.
Ke kanan sepi,
Ke kiri tiada arti,
Ke depan terhalangi,
Mundur ke belakang
sama saja bunuh diri.
Datanglah malaikat hati,
obati aku biar bisa berdiri.
Bukan saja untuk hari
ini, tapi rawatlah aku sampai waktu berhenti.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
(Tugas akhir bahasa Indonesia kelas XII)
(Tugas akhir bahasa Indonesia kelas XII)
Tuesday, September 18, 2012
To the one who walking in the rain with me "Thank’ you"
Assalamu Alaikum Wr.Wb
Okey readers, author cerita dibawah ini adalah hasil karya seorang sahabat yang merupakan salah satu pengalaman hidupnya. Tidak usah berlama-lama, langsung saja. Check it out!!!
Sesuatu hal yang entah mengapa
membuatku terus berpijar pada detik itu. Kuingin Katakan semuanya. Semua yang
ku tulis, ku isyaratkan bahkan sesuatu yang selama ini ku pendam.
Selama Aku bisa mengatakannya ku ingin katakan semua
Tapi ku tak ingin perubahan
Karna ku suka keadaan ini
Kusuka tetesan-tetesan hujan yang jatuh
Percikan genang air yang murni
Dan hadirmu di samping ku.
Ketakutanku Adalah perubahan mu
Kesedihanku adalah kepergianmu
Tapi Kupastikan keraguanku,kegundahanku yang tak beralasan.
Karna kau pasti kan disini untukku.
Pertigaan Tallo Mandai
Terhenti tiga Angkot Menunggu Langkah Kaki Penumpang Menghampiri. Samar-samar
terlihat seseorang bercelana abu-abu melangkah pasti keluar
dari salah satu angkot. Sekarang terlihat jelas laki-laki itu
memakai kemeja ungu kotak-kotak dan celana abu-abu khas salah satu seragam SMA
yg tergolong elit di Makassar…dia berlari menerobos gerimis yang jatuh tanpa
henti. Menghampiri salah satu angkot yang mengarah kearah
berlainan dari angkot yang baru ia naiki tadi.
“MANDAI???” ia tampak bertanya pada gadis yg tepat duduk di depan
pintu angkot
“hmm..?” gadis itu tampak bingung apa laki-laki itu benar bertanya
padanya
“MANDAI??” Laki-laki itu lanjut bertanya pada sopir yg seharusnya
memang jadi tempat bertanyanya..
Dengan cepat Laki-laki itu membuka pintu depan dan masuk ke angkot
agar tak benar-benar basah karna gerimis itu.
Sepanjang Jalan Tak Ada yang terjadi, laki-laki tadi hanya
sesekali membolak-balik halaman buku “GUYONAN KORUPTOR” yang Ia baca. Sedang
gadis tadi hanya Melihat-lihat Tetesan gerimis di jendela angkot. Perjalanan
mereka memang cukup panjang ditambah dengan kemacetan akibat ada perbaikan
jalan.
Satu persatu penumpang turun di pinggiran jalan, menyisahkan hanya
laki-laki itu dan gadis itu.
Tak lama kemudian laki-laki itu menoleh kebelakang mungkin hanya
hendak memastikan jumlah penumpang yang masih tersisa.
Dan satu hal yang ia tahu bahwa gadis yang tadi tidak menjawab
pertanyaanya teryata masih ada diangkot itu dan teryata ia juga memakai rok
abu-abu,.
Kemacetan Semakin Parah dan gerimis pun semakin bergemuruh
deras…dengan keheningan angkot sesekali gadis itu melihat kepala laki-laki itu
yg terkadang bergerak kekiri dan kekanan seperti tak terkontrol.
“Pasti dia ketiduran,,cepe’ dech!!”gerutu sang gadis dalam hati
Tak Lama Kemudian terdengar suara Pelan dibalik hujan deras..”
kiri!” Tanda Angkot Itu harus menurunkan penumpang
JEEEJJTTTTT….Sopir mengerem angkotnya, Sontak laki-laki tadi
langsung terbangun.
“ini pak uangnya” kata gadis itu
“hah! PURI JELITA”,,ini pak!” lanjut laki-laki tadi yang ternyata
turun di tempat yang sama
Gadis itu berlari dengan cepat menembus hujan yang deras, sambil
berharap ayahnya cepat menjemputnya.
Sesekali kedua anak itu saling mendahului…
Gadis itu terus berlari..tapi laki-laki itu pun juga terus
berlari. Terkadang gadis itu mendahuluinya tapi terkadang laki-laki itu
menyusul kembali dari belakang. Mereka seakan seperti pembalap yang saling
mendahului.
Tapi kemudian laki-laki itu merasa tak tersusul lagi oleh gadis itu
“MANA DIA???” gumamnya heran ketika tidak melihat gadis itu
menyusulnya
Laki-laki itu pun menoleh,,, Dengan Senyum lebar gadis itu
tersenyum seakan ingin memberi tahu bahwa ia sangat lelah dan telah benar-benar
basah sekarang…Tanpa di duga laki-laki tadi juga tersenyum layaknya teman lama
yang sedang bermain hujan-hujanan bersama teman baiknya.
Laki-laki itu pun membuka jemper putihnya yang ia pakai tanpa ia
kancing tadi, sembari menghampiri gadis yg tertinggal dibelakangnya.
“hhhaaa, basah ya!” Teriaknya
“hhmmm” gadis itu hanya bergumam
“ini pakai,,,jadiin payung aja…!”sarannya dari jauh
“ngak usah” jawab gadis tadi singkat dan jelas (ekspresi menolak)
Laki-Laki Tadi Langsung melemparkan jaketnya dan berlari Sekuat
Mungkin. Tanpa Ada Pilihan gadis itu harus memakai jaketnya karna tidak sopan
kalau hanya meninggalkannya di jalanan.
“Hei..Hei!!”teriak gadis itu tapi tak dihiraukan oleh laki-laki
itu
Sedangkan Laki-laki Tadi terus berlari dan berfikir
*To be continued
Sekilas Tentang Penulis (By Me)
Suci Ramdani Fitri, lahir pada tanggal 3 februari 1995 silam. Akrab dipanggil Suci. Anak bungsu dari dua bersaudara. Lahir dan besar di kalimantan, lalu berhijrah ke makassar pada pertengahan 2009 lalu. Doi melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 4 Makassar dan sekarang sedang menjalani kuliah di Universitas Negeri Makassar. Ketika SMP, doi pernah duduk di kelas akselerasi di SMPN 1 Sengata (Kalimantan Timur). Tak heran bila umurnya tergolong lebih muda dibanding teman-teman sekelasnya di ICP Of Biology Education. Meski demikian, tak bisa dinafikan bahwa doi juga merupakan salah satu mahasiswa yang unggul di berbagai bidang, bukan hanya akademik tapi juga dalam hal jurnalistik. Untuk itu, doi dan owner blog berencana untuk bergabung di salah satu biro HIMABIO UNM yang bergerak dalam bidang jurnalistik, yaitu LPM BIOma FMIPA UNM. Keep pray ya my beloved readers ;) Semoga ane dan sohib ane diterima. Hahahaa.
Sekian.
Wassalam
Friday, September 7, 2012
Renungkan!
Kita semua suka menatap bulan dan bintang, bukan? Menyadari, hei, apa yang akan kita lihat di langit malam kalau tidak ada dua benda ini?
Kita semua juga suka menatap hujan, bukan? Menghela nafas, bertanya dalam hati, berapakah jumlah tetes air yang turun? Kalau jumlah tetes hujan yang sepele ini saja kita tidak tahu, kenapa manusia selalu saja merasa congkak.
Kita juga suka menatap lautan, bukan? Menangguk takjim, teringatt petuah lama, lihatlah lautan terbentang luas, lemparkan sekantong tinta hitam, maka dengan lapangnya lautan, tinta hitam itu tidak berasa. Berbeda sekali dengan hati kita, yang setetes kesedihan saja, sudah membuat gelap seluruh hati.
Kita semua suka menatap sungai, bukan? Menggaruk kepala, berpikir, jika kita meletakkan sebuah perahu plastik yang kokoh, berapa ribu kilometer dia akan berpetualang mengelilingi dunia? Melihat banyak hal, bertemu banyak hal? Lantas, apakah kita tidak bergerak juga untuk pergi melihat dunia?
Kita juga suka menatap pegunungan, kabut menyelimuti hutan? Sambil merapatkan jaket, berpikirlah, lihatlah, pasak-pasak bumi sedang bekerja. Tanpa pegunungan, kulit bumi hanya lempeng yg terus berputar tidak terkendali.
Kita semua suka melihat hal tersebut, bukan? Maka terimakasih Tuhan atas segala hal menakjubkan yang telah Engkau ciptakan. Termasuk menatap pagi ini. Cahaya matahari pertama membasuh bumi, gemerlap dipantulkan kaca kendaraan, gedung, atau embun di rerumputan. Wajah-wajah semangat melintas, memulai aktivitas. Terimakasih, Tuhan.
-Tere Liye-
Subscribe to:
Posts (Atom)




